| Keaiban Yang Ditutup Allah |
Kita merupakan makhluk yang bersifat lemah dan hamba yang penuh dengan kebergantungan kepada Allah. Sepanjang kita hidup saban hari, kita tak mungkin terlepas daripada melakukan dosa. Dosa yang kita lakukan itu boleh jadi secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dosa yang terang-terangan akan mengundang rasa malu kepada orang lain, melainkan jika hati kita sudah sekeras batu. Oleh itu, kita lebih banyak melakukan dosa yang sembunyi-sembunyi. Dosa yang tak siapa tahu melainkan kita, dan Allah.
Kalau dibukakan segala dosa yang kita lakukan, tentu takkan ada siapa yang akan menghormati kita. Kalau Allah membukakan segala dosa yang kita lakukan sembunyi-sembunyi baik dalam pandangan, pendengaran, perbuatan, ataupun lintasan hati, nescaya takkan adapun manusia yang mahu memuji kita. Pujian yang manusia berikan adalah atas zahir yang terlihat mata. Namun, kita tentu lebih mengenali diri sendiri dan lebih tahu bagaimana status kita. Apakah kita itu sangat suci sehingga tak pernah melakukan dosa di belakang manusia atau kita ini penuh dengan dosa rahsia? Misalnya di saat kita seorang diri melayari internet dan tak ada mata lain yang melihat, apakah kita sampai melepasi batas penglihatan yang diizinkan Allah? Bagaimana dengan prasangka buruk dalam hati kita yang telah dilemparkan kepada sekian banyak manusia lain tanpa pengetahuan mereka? Bagaimana pula dengan perbuatan-perbuatan kita tatkala berseorangan? Astaghfirullahalaziim. Banyak sangat dosa kita! Firman Allah:
Allah begitu penyayang dan Dia tahu betapa lemahnya kita. Lalu dia menutup keaiban-keaiban kita sehingga kita mampu berjalan di tengah-tengah manusia tanpa rasa malu, sekalipun kita telah melakukan segunung dosa di belakang mereka. Namun, adalah sesuatu yang sangat takabbur jika dengan Allah pun kita tak rasa malu. Bukankah Allah mengetahui apa yang tak diketahui oleh manusia lain tentang diri kita? Maka, setiap kali kita ingin melakukan dosa di belakang manusia, ingatlah bahawa ada Allah yang lebih patut kita rasa malu kepada-Nya berbanding manusia. Mengapa? Kerana di akhirat kelak bukan manusia yang akan menghitung amal-amal kita. Allah yang paling tahu tentang diri kita dan Dia jugalah yang akan menghitung amal-amal kita. Hanya dengan Rahmat-Nya kita akan dimasukkan ke dalam syurga. Kalau kita merasakan tutupan Allah atas keaiban kita itu adalah satu zon selesa, maka kita silap. Boleh jadi keaiban yang Allah tutup sementara atas muka bumi ini akan dibukakan kepada seluruh Umat manusia di akhirat kelak jika kita tak benar-benar bertaubat kepada-Nya. Kadang-kadang kita suka mencanangkan dosa orang lain, sekalipun dosa tersebut tidak diceritakannya kepada orang lain, hanya kepada kita. Perbuatan itu mencari nahas namanya. Ingatlah akan sebuah hadith:
Hadith ini menyeru kita untuk memelihara keaiban orang lain. Sebagai timbal balik, Allah akan menutup keaiban kita di dunia dan di akhirat. Subhanallah! Masihkah kita berhajat untuk mencanangkan dosa orang lain sehingga Allah juga akan membuka keaiban kita nanti? Malulah kepada Allah, takutlah kepada ancaman Allah. Jika kita hanya malu kepada manusia, kita takkan malu berbuat dosa di belakang mereka. Namun jika kita malu kepada Allah, kita akan sentiasa memelihara diri daripada dosa, dalam terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Waspadalah akan firman Allah:
Apabila Allah telah menutup keaiban kita, janganlah pula kita yang membukakannya. Setelah selesai dosa sembunyi-sembunyi kita, janganlah diterang-terangkan kepada orang lain. Renunglah sebuah hadith:
Sungguh, Allah sentiasa menginginkan kebaikan bagi kita. Allah sentiasa membuka peluang dan ruang bagi kita untuk kembali bertaubat atas dosa yang kita lakukan di sebalik tabir. Namun, kita yang sebenarnya tak mengambil peluang dan tak menghargai tutupan-tutupan aib kita oleh Allah tersebut. Setelah apa yang Allah tutup daripada sekian banyak keaiban kita, apakah tidak wajar untuk kita bersyukur dan bertaubat? |
